Toxic Relationship yang Berlanjut Sampai ke Pernikahan

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan remaja penting untuk mendapatkan edukasi mengenai metode memilih sahabat dan calon jodoh. Salah satunya supaya tidak terjebak dalam “toxic relationship.”

Berdasarkan Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, relasi yang berbisa pada pasangan yang sudah menikah dapat berdampak buruk pada keharmonisan di dalam keluarga.

“Terbukti mereka-mereka remaja, yang akan berjodoh itu malah banyak yang punya karakter tidak positif,” kata Hasto dalam Seminar Nasional dan Deklarasi Gerakan Nasional Pendewasaan Usia Perkawinan untuk Peningkatan depo 10k Kwalitas SDM Indonesia .

“Ada istilahnya toxic people, yang kemudian akan menjadi toxic friendship, yang akan juga menjadi toxic relationship, di mana ini sungguh-sungguh memberi pengaruh keharmonisan di dalam keluarga,” kata Hasto.

Menanggapi fenomena-fenomena semacam ini, Hasto mengatakan bahwa remaja perlu mendapatkan pendampingan secara kerohanian, religiusitas, serta spiritualitas.

“Dasar keimanan dan juga pelajaran agama, itu sungguh-sungguh penting untuk mengikis dan mengurangi perilaku toxic,” ujarnya seperti dikutip dari siaran di Youtube Kementerian PPPA pada Senin (22/3/2021).

Imbas Toxic Relationship Saat Berkeluarga

Hasto melanjutkan, pernikahan di usia yang terlalu dini malah mesti dicegah supaya tidak terjebak dalam relasi pada pasangan yang bersifat negatif atau toxic relationship. Menurutnya, relasi yang buruk pada pasangan juga dapat berdampak pada buah hati.

“Bila kita lihat pasangan di usia yang terlalu muda, ia secara fisik, emosi, dan mental, juga belum mendorong,” kata Hasto. “Kemudian juga kadang-kadang didasari oleh cinta yang buta. Ini cukup membahayakan pada keluarga dan juga buah hati.”

Hasto mengucapkan, angka perceraian di Indonesia ketika ini termasuk memprihatinkan. Dia mengatakan hal ini mencerminkan kwalitas keluarga di Tanah Air.

Tentang Penulis

admin7